Perjuangan Sukardi Menangkarkan Jalak Bali

Senin, 16 Januari 2017 | 07:29
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BURUNG LANGKA: Sukardi memamerkan salah satu Jalak Balinya. Foto: Jawa Pos

INDOPOS.CO.ID-Menangkarkan jalak bali bukanlah perkara gampang. Selain harus punya izin resmi, penangkar harus telaten merawat burung incaran kolektor itu. Justru berawal dari hobi, Sukardi kini sukses mengembangbiakkan burung langka tersebut.

Suara riuh rendah membahana dari sebuah rumah di Perumahan Griya Kenari Mas, Cileungsi, Bogor. Semakin dekat, suara kicau burung bersahutan kian nyaring. Begitu masuk ke rumah yang dicat warna teduh itu, terlihat burung-burung berjingkrakan di kandang berukuran 2 x 4 meter. Suaranya merdu seperti ingin menghibur tamu.

Di salah satu sudut, Sukardi tampak sedang meloloh anakan jalak bali. Makanannya jangkrik. Sesekali Sukardi bersuit, anakan jalak bali itu langsung merespons dengan membuka paruhnya lebar-lebar. Hap, jangkrik pun langsung ditelan. ”Iya, begini ini cara meloloh jalak bali itu,” ujarnya.

Di penangkarannya, saat ini Sukardi memiliki lebih dari seratus ekor jalak bali. Belum lagi jalak bali yang ditangkar di empat lokasi lain di bawah koordinasinya. ”Saya juga membantu empat teman untuk menangkarkan jalak bali. Nanti anakannya dibagi 50:50. Hitung-hitung ikut membantu agar dapur terus mengepul,” ujarnya.

Untuk sepasang jalak bali anakan usia tiga bulan, harganya bisa Rp 6 juta. Sedangkan sepasang jalak bali indukan bisa lebih dari Rp 15 juta. Sukardi juga turut dalam konservasi jalak bali dengan menyerahkan 10 persen yang dikembangbiakkan untuk dilepasliarkan atau untuk kebun binatang. ”Misalnya bila Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mau melepasliarkan atau untuk kebun bintang juga bisa,” tutur lelaki kelahiran Wonogiri tersebut.

Pendiri UD Kere Ayem Bird Farm itu baru mendapatkan penghargaan terbaik satu kategori penangkar jalak bali dari BKSDA. Keberhasilan suami Riska Ardwita tersebut tidak diraih dalam sekejap. Dia memulainya pada 2003. ”Awalnya saya hobi ikut lomba burung,” terang pensiunan pegawai Taman Buah Mekarsari itu.

Saat menggeluti hobi burung dan mengikuti lomba, waktu untuk keluarga sangat minim. Senin hingga Jumat dia bekerja di Taman Buah Mekarsari. Lalu, Sabtu digunakan untuk menyiapkan burung yang ikut lomba pada Minggu. ”Beberapa tahun begitu terus, akhirnya istri protes,” ungkapnya.

Karena itu, mulailah lulusan sarjana biologi UGM tersebut mencari solusi. Mulailah pada 2003 dia menangkarkan burung. Saat itu hanya burung-burung biasa seperti anis kembang, anis merah, cucakrawa, dan jalak putih. ”Yang tidak dilindungi negara,” tuturnya. Lalu, pada 2004 Sukardi bersama keluarganya berlibur ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di TMII ada wahana burung jalak bali.

Saat itulah dia mulai memiliki impian bisa menangkarkan jalak bali. ”Saya lihat gagahnya jalak bali itu, suaranya yang merdu membuat saya kepincut,” ujarnya. Setelah itu, Sukardi selalu terbayang-bayang untuk bisa membiakkan burung dengan nama latin Leucopsar rothschildi tersebut.

Berbagai usaha dilakukan. Dua tahun kemudian, barulah impiannya terwujud. Dia mengetahui ada yang menjual jalak bali secara resmi di Bandung. Harga indukannya Rp 50 juta sepasang. ”Saya benar-benar ingin membeli keduanya,” imbuhnya.

Mengetahui rencana itu, istrinya protes. Uang begitu banyak kok hanya untuk membeli sepasang burung. Tapi, tekad Sukardi sudah bulat. Dia nekat menjual semua burung miliknya dan merogoh uang tabungan untuk membeli sepasang jalak bali. Pada 2006 itulah, Sukardi mulai menangkarkan burung impiannya. Dia masih ingat dengan nomor cincin sepasang jalak bali yang pertama dimilikinya itu. ”H-603 dan H-709,” ungkapnya.

Ternyata, kemampuan membiakkan burung-burung lain membuat Sukardi bisa menangkarkan jalak bali. Hanya dalam waktu dua pekan, jalak bali pertamanya bertelur. Delapan hari setelah telurnya menetas, anakan bisa dipanen dan langsung dimasukkan inkubator.

Lambat laun, anakan jalak bali mulai banyak. Saat itulah, si penjual jalak bali dari Bandung meneleponnya. ”Dia tanya bagaimana jalak balinya. Saya jawab sudah beranak lima. Dia tertegun dan langsung menawari kerja sama. Sepasang jalak bali indukan diganti delapan anakan,” ujarnya.

Ketelatenan Sukardi membuahkan hasil. Setidaknya, dia sudah memiliki delapan pasang jalak bali indukan. Berarti sudah ada 64 jalak bali anakan yang diberikan kepada si penjual asal Bandung tersebut. ”Saat itu saya sudah memiliki izin penangkaran dan izin edar,” ungkapnya.

Mulailah Sukardi menjual jalak bali miliknya. Biar sang istri tidak lagi menolak hobinya, uang hasil penjualan burung langsung diberikan. Namun, penangkaran Sukardi mengalami pasang surut. Pada 2013 ada wabah penyakit burung. Lebih dari seratus anakan jalak bali mati lantaran penyakit itu. Wabahnya membawa dua penyakit. Yang satu penyakit seperti sariawan dan lainnya berak hijau. ”Anakan jalak bali tidak mau makan karena sariawan. Kotorannya juga warnanya hijau dan berbau,” tuturnya.

Puluhan dokter hewan sudah didatangkan. Berbagai merek obat juga sudah dicoba. Semua tidak mempan. Dia sudah berpikir untuk menyerah dan siap menghentikan penangkaran. ”Saya cari dokter hewan khusus burung tidak ada. Setahu saya hanya satu di UGM,” ujarnya. Saking mewabahnya penyakit itu, dia sampai mendengar hampir semua penangkaran di Indonesia mengalami hal serupa. ”Di Klaten, Bandung, dan Medan juga mengalami,” ungkapnya.

Walau tidak memiliki obatnya, lambat laun wabah itu mulai menghilang. Wabah tersebut terjadi hampir setahun penuh. ”Saat itu indukan masih banyak, tapi anakan habis. Sampai sekarang saya tidak mengetahui apa obat untuk penyakit itu,” katanya. Kini Sukardi masuk fase menikmati hasil jerih payahnya. Namun, dia tidak berhenti. Ketua Paguyuban Penangkar Jalak Bali (PPJB) itu turut menekan penangkapan burung liar. Burung tangkapan dari alam itu bisa dideteksi dari cincin dan sertifikat. Jika tidak bersertifikat dan bercincin, burung dapat dipastikan tangkapan dari alam. ”Maka, kami tidak perbolehkan ikut lomba,” jelasnya.

Targetnya kini adalah membuat jalak bali bukan lagi satwa langka di Indonesia. Namun, tetap menjadi satwa yang dilindungi. ”Sebenarnya lambat laun mulai terasa. Dulu harga sepasang jalak bali anakan Rp 13 juta, sekarang Rp 6 juta,” tuturnya.

Sampai saat ini Sukardi telah membiakkan 1.070 jalak bali. Selain jalak bali, ada berbagai burung yang dikembangbiakkan. Di antaranya, cucakrawa, murai batu, jalak putih, jalak suren, jalak hongkong, dan kacer. ”Sebenarnya ini industri besar, mulai kandang hingga pakan. Tapi, masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah,” ujarnya. (ilham wancoko*/c10/oki/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%