Malapetaka Demam Share

Sabtu, 15 April 2017 | 12:13
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ANTI-HOAX: Deklarasi anti berita Hoax di Dago car Free Day (CFD), Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Kegiatan yang digelar oleh Indonesia Hoax Buster (IHB) Bandung ini mensosialisasikan kepada masyarakat pengguna internet untuk dapat memilih berita dengan bijak.

INDOPOS.CO.ID - Fenomena Demam Share melalui telepon genggam dan media sosial tidak selamanya akan menjadi berbuah kebaikan. Namun, dapat pula menjadi sebuah malapetaka.

”Ngeshare sesuatu melalui hp atau media sisial tidak semuanya berbuah kebaikan. Terkadang menjadi malapetaka atau dapat merugikan orang lain,” ungkap anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Masinton Pasaribu, kepada wartawan saat dihubungi, baru-baru ini.

Contoh kasusnya, sambung Masinton, terjadi penganiayaan terhadap seseorang akibat pesan berantai yang di-share karena pihak yang menerima pesan tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Terlebih si pelaku itu sangat mempercayai pesan berantai tersebut. Lain lagi, lanjutnya, share tersebut berisi hoax yang berujung penipuan.

”Banyak sekali sekarang ini kita menerima brodcast dari handpone atau media sosial yang isinya belum tentu teruji kebenarannya. Bisa hoax dan bagi orang yang percaya terhadap hal tersebut apalagi soal uang bisa tertipu. alhasil, setelah tertipu barulah laporan ke polisi. Jadi memang harus hati-hati,” kata Masinton.

Dia pun mengaku, dirinyapun dahulu pernah melakukan share baik melalui handphone ataupun media sosial. Namun, setelah direnungi boleh-boleh saja hal itu dilakukan asalkan banyak maslahatnya bagi banyak orang. Untuk itu ketika dirinya akan mengeshare sesuatu dicermati terlebih dahulu akan dampaknya. ”Sayapun tidak lepas untuk Ngeshare, tapi saya cermati dulu kebenarannya dan apakah ini berguna bagi banyak orang. Bila lebih banyak mudaratnya lebih baik tidak,” tukasnya.

Masinton juga mengimbau, agar masyarakat jangan menyebarkan informasi yang provokatif ke media sosial. Apalagi informasi itu tidak ada kebenarannya. ”Mari bijak menggunakan media sosial,” tandasnya. 

Ditambahkan, anggota Komisi I DPR RI, Marinus Gea, share melalui media sosial sudah menjadi gaya hidup saat ini. Perilaku narsisme di media sosial itu pun sudah berlaku universal. Tak cuma masyarakat biasa, kalangan elite seperti presiden, pejabat dan selebriti pun sudah ketularan perilaku itu. Survei dari Pew Internet & American Life Project menyatakan, 54 persen pengguna internet punya kebiasaan mengeshare dirinya ke dalam Facebook, Twitter atau jejaring sosial lainnya.

”Nge-share itu merupakan hal yang wajar pada setiap orang. Keinginan ini dipengaruhi rasa kita pada hubungan sosial. Hal ini sebetulnya sama dengan saat orang mengatakan betapa bagus baju yang kita kenakan. Secara biologis, pengakuan sosial merupakan kebutuhan, bahkan ada area pada otak yang dikhususkan untuk aktivitas sosial,” kata Marinus saat dihubungi, belum lama ini.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menilai, Demam Share itu memiliki dampak negatif dan positif. Penelitian di Inggris menyatakan, membagi sesuatu  ke jejaring sosial termasuk foto selfie, berpotensi memperburuk hubungan atau membuat pengunggah foto kurang disukai. ”Peneliti kami menemukan, seseorang yang secara berkala mem-posting foto miliknya di media sosial berisiko membahayakan hubungannya di kehidupan nyata,” terangnya.

Beberapa ahli lagi menyatakan, lanjutnya, mem-posting foto di jejaring sosial, termasuk foto selfie, bisa memengaruhi karakter dan tingkah laku orang dewasa. Misalnya untuk narsis, yang ditemukan pada beberapa selfie, obyek dalam keadaan bersenang-senang. Meski begitu, peneliti menganggap selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto. Bagaimanapun, sejumlah psikolog berpendapat, selfie tak sepenuhnya hanya menguntungkan diri sendiri. (aen)

 

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%