Cerita Sukses Agung Solihin, Konsultan Budaya Organisasi

Sabtu, 15 April 2017 | 13:09
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Agung Solihin. Foto: novita amelilawaty/indopos

INDOPOS.CO.ID-Profesi Konsultan Budaya Organisasi memang masih asing didengar. Namun, konsultan seperti itu ternyata banyak dibutuhkan saat ini. Perubahan tidak hanya cukup untuk individu tetapi juga sangat diperlukan untuk perubahan organisasi atau lingkungan tempat individu itu beraktivitas.

"Kenapa konsultan yang saya pilih? Saya ingin sampaikanbahwa  saya sudah pensiun dini menjadi seorang Motivator. Kenapa demikian? Karena belajar dari pengalaman saya selama kurang lebih 15 tahun, ternyatatidak cukup dengan individu yang dibangun melainkan penting membangun lingkungan di dalam organisasi. Alasanya sangat esensial, penting sebuah lingkungan yang terlebih dahulu dibangun contoh sederhana kalau kitamelihat teman kita atau rekan kita yang jarang ibadah, kemudian teman kita itu pergi ke tanah suci, kira-kira terketuk untuk ibadah tidak? Ya pasti ada magnet yang kuat untuk dia beribadah. Kenapa demikian karena lingkungan di sana semuanya beribadah, itu saya maksudkan membangun lingkungannya terlebih dahulu. Tentunya saja membangun lingkungan/ culture itu tidak mudah, perlu peran serta semua serta komitmen pemimpin dalam suatu organisasi. Cerita Agung di Jakarta, belum lama ini,” kata Agung.

Waktu kecil, kata Agung mengenang, dia mempunyai sebuah tujuan yang menurutnya luar biasa. "Ketika saya kecil saya mempunyai design diri. Waktu saya kelas 4 SD saya diminta menuliskan nama, ketika teman-teman saya menuliskan hanya nama, hanya saya yang berbeda. Saya menuliskan Prof Dr. Agung Solihin," kata Agung kemudian tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, Agung mulai berpikir bagaimana caranya untuk menjadi seorang professor betulan. "Alhamdulillah caranya dibukakan oleh Tuhan, dengan menjadi konsultan budaya organisas menjadi expertdibidang ini sebagai praktisi semakin terbuka jalannya menjadi professor,” kata Agung

Cita-cita Agung ingin menjadi Konsultan Budaya Organisasi nampaknya mulus. Sejak kecil, Agung suka berorganisasi. "Saya dari SD dan SMP sangat aktif di organisasi. Saya mengikuti sampai 7 organisasi di antaranya pramuka, silat, karate, anggota paskibra, hingga pengurus koperasi," kenangnya.

Sejak itulah Agung belajar banyak dan mulai berlatih menjadi seorang pembicara. "Biasanya kalau pembicara sekolah kalau dulu disebutnya motivator, tapi saya berfikir kalau hanya motivasi tidak cukup akhirnya pada tahun 2014 saya memutuskan untuk terjun di dunia konsultan yang khusus membangun budaya organisasi," katanya tegas dan penuh percaya diri.

Namun, ternyata Agung bukan satu-satunya di dalam keluarga besarnya yang berprofesi serupa. "Saya 5 bersaudara, saya anak kedua, kakak saya laki-laki beliau adalah seorang pembicara seorang Trainer, Motivator. Kemudian saya punya 3 adik, 1 laki-laki dan 2 perempuan dan semuanya saya bersyukur sudah sukses dan bahagia dengan pekerjaanya masing-masing," kata Agung kemudian tersenyum. 

Sementara kedua orangtua Agung, berprofesi sebagai seorang wirausaha. "Mereka memang bukan seorang pedagang besar tetapi saya melihat mereka adalah pejuang sejati dan sangat menginspirasi kehidupan saya,” tambahnya. 

Agung memantapkan diri sebagai konsultan budaya organisasi melalui pendidikan formal dan informal. "Pendidikan saya saat ini, S2 Magister tapi mencapai itu tidaklah mudah, karena sejak SD saya sudah punya cita-cita bahwa ketika kuliah saya harus biaya sendiri," cerita Agung.

Setelah lulus SMA, lanjutnya, dia tidak langsung kuliah, saya kerja di perusahaan Australia sebagai autocad draftsman pekerjaan membuat gambar dari arsitek. Kemudian saya gambar di komputer, sambil kuliah waktu itu setelah S1 selesai saya lanjutkan S2 dan target saya sampai nanti saya jadi professor untuk mencapai gelar tersebut," kata Agung bersemangat.

Dengan penuh kesungguhan, anak kedua dari lima bersaudara itu mengaku sempat mengambil sertifikasi di Michigan Amerika Serikat khusus Corporate Culture. "Kemudian saya mengambil sertifikat di BNSP dan sertifikasi trainer dan Master Practitioner di NNLP dan masih banyak yang perlu saya pelajari," tutup Agung. (vit)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%