Satu dari Sepuluh Orang Indonesia Terkena Hepatitis

Kamis, 17 Agustus 2017 | 07:26
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Tahu kah anda, bahwa 95 persen orang dengan hepatitis tidak tahu kalau dirinya terkena hepatitis, padahal satu dari sepuluh orang ada yang hepatitis. Hepatitis sendiri ada lima macam. Yakni hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D dan hepatitis E. 

Hasil Riskesdas 2013 mencatat, diperkirakan sekitar 1,5-3 juta orang Indonesia saat ini terinfeksi hepatitis. Jika dikombinasikan dengan hepatitis B maka setidaknya 1 dari 10 orang Indonesia mengidap hepatitis kronik. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Dirjen P2P Kemenkes RI, Dr. Wiendra Woworuntu M.Kes, menjelaskan, kasus infeksi penderita hepatitis C lebih tinggi dari penderita HIV.  

Kelompok usia tertinggi infeksi hepatitis C di Indonesia adalah 50-59 tahun, namun untuk kelompok usia 35-39 saat ini cenderung ada kenaikan. ''Ini adalah kelompok usia produktif, yang tentu akan membawa dampak yanglebih besar,'' ujar dr. Wiendra dalam diskusi tentang Infeksi Hepatitis C dan Penanganan Komplikasinya yang diselenggarakan Forum Ngobras, di Jakarta, Rabu (16/8).

Hepatitis C ditularkan melalui kontak darah. Oleh karena itu faktor risiko penularan hepatitis C positif berdasarkan hasil surveilance Kemenkes adalah pengguna narkoba suntik, hemodialisa, keluarga pengidap hepatitis C, penerima transfusi darah, pasien cangkok organ dll. 

Dr. Irsan Hasan SpPD-KGEH, selaku Ketua Peneliti Hati Indonesia (PPHI) menjelaskan, dari lima macam hepatitis, hepatitis A dan E bisa sembuh dengan sendirinya, paling lama satu bulan. ''Yang kronik itu B, C dan D,'' tandasnya.

Dr. Irsa  menambahkan,  sebagian besar (80 persen) infeksi hepatitis C tidak menunjukkan gejala. Banyak yang tidak tahu mereka telah terinfeksi virus hepatitis.  ''Perjalanan pernyakit dari mulai terinfeksi menjadi infeksi akut kurang lebih 6 bulan. Namun, kita jarang menemukan kasus akut karena tidak bergejala. Kebanyakan kasus infeksi hepatitis terdeteksi setelah menjadi infeksi kronis dan berakhir dengan sirosis hati,'' tukasnya.

Sirosis adalah pembentukan jaringan keras atau fibrosis di hati. Sirosis inipun tidak menimbulkan gejala kecuali fungsi hatinya sudah menurun hingga tinggal 20 persen. Sirosis dapat berkembang menjadi kanker hati.

 

Skrining dan Pengobatan Hepatitis C

Perkembangan pengobatan hepatitis C saat ini sangat berkembang dan jauh lebih menggembirakan dibandingkan pengobatan untuk hepatitis B. Dulu, pengobatan untuk hepatitis C hanya mengandalkan interferon yang diberikan dengan cara disuntik. Efek samping interferon sangat berat dengan peluang kesembuhan hanya 60 persen. 

Saat ini setelah ditemukan antivirus dari golongan Direct Acting Antivirus (DAA), maka keberhasilan pengobatan untuk infeksi hepatitis C ini meningkat signifikan.  Keunggulan DAA antara lain efek samping sangat rendah dan mudah dikonsumsi karena sediaan oral dan keberhasilan di atas 90 persen. ''Oleh karena itu dalam pengobatan hepatitis C, targetnya adalah sembuh. Karena efek samping DAA ringan, maka jarang pasien yang menghentikan pengobatan,'' tuturnya.

Tahun 2013 baru ada 2 jenis DAA di dunia, tetapi di 2016 ini puluhan DAA baru menanti untuk diluncurkan dan tengah dalam tahap penelitian. DAA meningkatkan respons terapi Hepatitis C mendekati 100 persen. Saat ini sudah ada setidaknya 5 obat DAA yang sudah teregistrasi di BPOM yaitu Sofosbuvir,  Simeprevir,  Sofosbuvir + Ledipasvir,  Grazoprevir + Elbasvir dan Daclatasvir.

Wiendra menjelaskan, dari DAA yang tersedia di Indonesia baru dua jenis yang yang sudah masuk ke formularium nasional adalah sofosbuvir, simeprevir dan ribavirin. Pelayanan dan akses obat  hepatitis C akan didorong ke layanan BPJS, termasuk pemeriksaan diagnostik dan juga evaluasi terapi berupa pemeriksaan HCV-RNA dan genotipe, juga termasuk fungsi hati. 

Target Kemenkes tahun ini adalah 6 ribu pasien yang dapat tercover BPJS untuk hepatitis C. Prioritas untuk pasien yang koinfeksi adalah pengobatan karena mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi. ''Munculnya obat-obat baru hepatitis dengan tingkat kesembuhan sampai di atas 95 persen itu sangat spektakuler dan ini memang yang ditunggu-tunggu kita semua,'' tandas Wiendra.

Kemenkes sendiri menargetkan eradikasi hepatitis C di tahun 2030. Program yang dilakukan antara lain penyediaan obat dan skrining, dengan harapan skrining hepatitis C dapat dilakukan di tingkat Puskesmas. (dew)

 

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%