Pria Tidak Boleh Masuk

Rabu, 30 Agustus 2017 | 18:53
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Yulia Astuti Founder Moz5 Salon Muslimah dan Founder CV Mozlima Cantika

INDOPOS.CO.ID - Ingin menciptakan salon yang nyaman dan privasi perempuan selalu terjaga. Bisnis yang dirintis Yulia Astuti ini, kini kian berkembang.

-----

Cantik. Ramah. Senyuman terlihat jelas menambah manis Yulia Astuti saat  menyambut INDOPOS di ruang kerjanya, lantai 2 ruko ITC, Depok, siang kemarin (29/8). Perempuan berhijab itu bercerita, awalnya dia karyawan di salah satu perusahan milik Jepang. Diakui juga, kedua orang tuanya bukan berlatar belakang pengusaha. Ibunya adalah ibu rumah tangga dan ayahnya pegawai BUMN. Saudara Yuli juga pegawai dan pekerja.

Perempuan kelahiran 17 Juli 1976 itu mulai terpikir membuka usaha salon ketika memakai jasa salon namun merasa privasinya tidak terjaga. Haknya sebagai seorang muslimah menjaga aurat tidak didapatkan ketika memakai jasa salon pada umumnya. Saat itulah muncul ide membuka salon muslimah, pria tidak dapat masuk ke dalam salon. Sehingga yang ada di dalam salon seluruhnya adalah kaum hawa.

Meskipun tidak memiliki latar belakang sebagai perias, Yuli memberanikan diri membuka usaha tersebut. Saat itu masih berstatus sebagai karyawan. Di perusahaan milik Jepang itu ia baru bekerja kurang lebih sekira 3 tahun. Depok dipilih sebagai tempat merintis, bukan hanya karena dulu kuliah di Universitas Indonesia. Lebih dari itu, karena sudah mengetahui pasar di Depok. Karena buta salon, yang dilakukan kali pertama adalah mencari karyawan yang mengerti tata rias dan perawatan kecantikan. Yuli dapat 3 orang yang siap menjalankan usahanya. Dia mengontrak bangunan dengan ukuran 3,5 x 10 meter persegi. ’’Langsung mengontrak (bekas) warteg itu selama 2 tahun dengan biaya sekira Rp 37 juta,’’ ujarnya.

Sama seperti usaha lainnya ketika baru merintis, salon Yuli belum dikenal. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkenalkan salonnya ke masyarakat. Dari mulut-kemulut hingga membuat brosur kemudian dibagi-bagikan di area parkir mal. ’’Waktu itu kucing-kucingan juga sama satpam mal,” kenangnya.

Tidak mudah membangun usaha. Apalagi latar bekang pendidikannya sama sekali tidak berkenaan dengan salon. Namun, dia terus belajar dari sejumlah buku berbahasa inggris yang membahas bagaimana menjalankan manajemen bisnis.

Setelah tertatih-tatih, tiga tahun kemudian Yuli semakin mantap menekuni usahanya. Dia mengambil keputusan berhenti dari kantor tempatnya bekerja. Ia ingin fokus mengurus salonnya dan membesarkan salonnya hingga dikenal di dunia. Saat ini salon Yuli sudah tersebar di pulau-pulau besar Indonesia dengan 25 cabang. Juga melayani layanan konsultasi kecantikan. Dibantu kurang lebih 400 karyawan, salonnya perlahan mulai mewujudkan visi misnya, sebagai salon muslimah terbesar di Indonesia. ’’Kita pengennya Indonesia dikenal dengan salon muslimahnya dan produk kecantikannya yang alami asli dari Indonesia,’’ jelas lulusan Sastra Jepang, Universitas Indonesia, itu.(kj)

Bentuk Tim, Tinggal Memantau

Sebagai anak, tentunya tidak ingin mengecewakan orang tua. Demikian juga Yulia Astuti. Dengan pendidikan yang diperoleh, Yuli mengaku orangtuanya ingin melihatnya bekerja di perusahan besar atau  menjadi PNS. Sehingga ketika memutuskan berhenti dari perusahaan Jepang, tempatnya bekerja, dan memutuskan usaha, satu hal yang paling dipegang adalah tidak ingin mengecewakan orangtuanya. ’’Nggak bisa mementingkan ego kita saja, pasti orang tua juga punya cita-citanya kan. Waktu itu, awalnya membayangin buka usaha salon gampang saja, waktu jalaninya kok ribet amat,’’ jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, perempuan kelahiran 17 Juli 1976 yang awalnya turun langsung, akhirnya sadar bahwa untuk membesarkan bisnisnya tidak boleh berlama-lama terlibat pekerjaan di lapangan. Yuli membentuk tim untuk mengerjakan pekerjaannya, sehingga dia hanya memantau.’’Jadi saya bisa lihat oh ini kurangnya di sini, oh yang itu harus dibenahi dan yang ini harus seperti ini,’’ tutupnya. (kj)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%