Ketika Rangga Ega Santoso Temukan Solusi Krisis Energi

Temukan Ide saat Lihat Banyak Buah Bintaro di Jalanan

Rabu, 30 Agustus 2017 | 19:45
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
INOVATIF: Rangga Ega Santoso (dua dari kanan) bersama rekannya di Pimnas 2017.

INDOPOS.CO.ID - Usianya tergolong muda. Baru 22 tahun.  Pemikiran Rangga Ega Santoso menarik. Dia khawatir Indonesia mengalami krisis energi. Setelah berpikir keras, dia menemukan solusi dengan menciptakan bioaction. Karyanya sudah dipresentasikan di berbagai konferensi internasional.

TABITA TERMIATI MAKITAN

Jadwal Rangga Ega Santoso begitu padat. Dalam bulan ini, dia masih dalam masa karantina untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Namun, di sela-sela kesibukannya, dia memberi waktu khusus kepada koran ini pada Selasa (15/8) untuk wawancara.

Dia tampak bersemangat memaparkan hasil temuannya: membuat bioetanol berbahan buah bintaro yang diberi nama bioaction. Menurut Rangga, dia menciptakan bioetanol alternatif itu setelah ada artikel yang menyebut jika pada 2030 mendatang, Indonesia akan impor bioetanol.

Dan diproyeksikan pada 2025, Indonesia membutuhkan 2,8 juta ton bioetanol. Dia pun tertantang untuk mencari cara agar jangan sampai Indonesia impor bioetanol. ”Saya berpikir, masak Indonesia yang kaya sumber daya alam (SDA) ini harus impor? Pasti ada solusinya,” ujar mahasiswa semester akhir Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Nah, penelitian itu dia mulai akhir 2016. Setelah membaca banyak literatur, sudah banyak sekali penelitian mengenai formula bioetanol yang berbahan baku glukosa. Namun, menurut Rangga, kebanyakan formula tersebut berbahan dasar makanan seperti singkong, tebu, dan buah-buahan.  ”Kalau memakai bahan makanan, khawatirnya nanti bisa bertabrakan dengan kebutuhan pangan. Jadi, saya terus mencari ide agar menemukan bahan-bahan lain yang mengandung glukosa dan bisa diolah menjadi bioetanol,” kata Rangga.

Akhirnya, pada akhir 2016 lalu, Rangga mencoba memanfaatkan buah dari tanaman bintaro (cerbera manghas). Dia kerap menemukan buah bintaro ada di taman kota atau pinggir jalan. Daunnya sering dimanfaatkan sebagai penyerap karbondioksida.

Sementara kebanyakan masyarakat menganggap buah bintaro tidak begitu penting. Maklum, selama ini buahnya dikenal beracun. Tapi, dia tertantang untuk menelitinya. Dan ternyata, setelah diteliti di laboratorium, buah bintaro mengandung selulosa yang dapat ”dipecah” menjadi glukosa.

Akhirnya, temuan ini dia kembangkan bersama beberapa temannya dari berbagai latar belakang ilmu. Mereka adalah Nur Fitriani (jurusan biologi), Maria Carolina (jurusan teknik sipil), dan Firda Cynthia (jurusan kimia). Hasil penelitian ini, dia ikutkan di Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan dinyatakan lolos.

Lantas, untuk memperdalam penelitiannya, sejak April hingga Juli 2017, dia melakukan uji coba di laboratorium Politeknik Negeri Malang (Polinema).  Bagaimana tahapan-tahapan buah bintaro bisa dijadikan bioetanol? Rangga menjelaskan, awalnya buah bintaro itu dipotong-potong. Lalu, dipanggang dalam oven full selama 3 hari dengan suhu 60 derajat Celcius. Setelah kering, buah bintaro digiling hingga menjadi bubuk. Substrat (bahan) serbuknya direndam menggunakan larutan NaOH (natrium hidroksida). ”Proses ini untuk menghilangkan zat-zat lain yang tidak dibutuhkan supaya nanti selulosanya bisa dihidrolisis (diubah) menjadi glukosa,” jelas pemuda kelahiran Malang, 27 November 1995 ini.

Selanjutnya, bahan yang masih basah dinetralkan hingga mencapai pH (kelembapan) normal yaitu 7. Lalu, selulosa dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat (H2So4) agar dapat menjadi glukosa. ”Nah, kalau sudah jadi glukosa, lalu difermentasi menggunakan bakteri Zymomonas mobilis untuk menghasilkan bioetanol,” terang mahasiswa asal Sukun, Kota Malang, ini.

Dari formula yang diciptakannya, satu kilogram buah bintaro dapat menghasilkan 9 mililiter bioetanol. ”Memang masih sedikit. Namun, kalau seluruh Jawa Timur bisa memanfaatkan buah bintaro, bisa jadi peluang untuk menjawab kebutuhan bioetanol se-Indonesia,” kata pemuda dua bersaudara ini.

Salah satu kelebihan dari formula yang diciptakan oleh Rangga adalah proses yang membutuhkan biaya cukup murah jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. ”Dulu, untuk proses hidrolisis, ada yang menggunakan enzim. Kalau pakai enzim, biayanya Rp 78 ribu untuk mengolah 10 gram glukosa. Sedangkan kita hanya butuh Rp 1.900 karena memakai bahan-bahan yang lebih murah seperti asam sulfat,” terangnya. 

Penggunaan bioetanol sendiri bisa menjawab permasalahan energi di Indonesia. ”Bioetanol nantinya bisa dibuat campuran bensin sebesar 20 persen. Jadi kalau biasanya membutuhkan 1 liter bensin. Untuk pemakaian selanjutnya jika dicampur Bioaction, pemakaiannya bisa menurun menjadi 800 ml,” kata warga Janti, Sukun ini.

Potensi besar dari bioaction ini telah dipresentasikan ke sejumlah konferensi internasional. Salah satunya di Community and Technological (CommTECH) Ideas dan Joint Workshop Global Engineer in Asia (JWGEA) yang diadakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Juli lalu. Nantinya, pada 2–3 Oktober, Rangga juga akan mempresentasikan bioaction pada International Tropical Renewable Energy Conference (i-TREC) yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Untuk pengembangan selanjutnya, dia aktif memperkenalkan bioaction ke institusi pemerintah agar mendapatkan pengakuan. ” Juli lalu, saya sudah ke Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur dan Kebun Raya Purwodadi-LIPI untuk meminta testimoni mereka,” kata Rangga. (*/c2/abm)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%