Waspada Kanker Lidah

Sabtu, 02 September 2017 | 10:49
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Penyakit kanker bisa bermacam-macam dan menyerang organ tubuh tak terkecuali bagian lidah. Di era modern saat ini, semakin sering kasus tumor lidah mulai muncul. Tentu hal itu merupakan proses menahun yang tak langsung diderita oleh pasien.

Catatan medis, kasus tumor lidah kini belakangan sering muncul meski tak diketahui pasti apa penyebabnya. Bisa saja karena kebiasaan merokok, makanan dan minuman hingga iritasi yang berulang di bagian lidah dan rongga mulut. Apapun itu, tumor lidah harus diwaspadai dengan gaya hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan mulut.

”Tumor lidah sebetulnya cukup sering. Bisa karena faktor makanan dan iritasi. Sekali lagi, tak ada faktor penyebab kanker secara khusus tetapi bisa karena ada faktor lain misalnya iritasi berulang atau kebersihan yang kurang dijaga atau hygiene,” kata Dokter Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Marlinda Adham, kepada Jawa Pos (Grup Indopos), belum lama ini.

Linda mencontohkan paling banyak kasus tumor lidah terjadi di India. Sebab masyarakatnya memiliki kebiasaan mengonsumsi kacang jenis betel nut atau mirip tembakau khusus. Betel nut mirip sirih dengan biji yang bisa menyebabkan iritasi di bagian lidah dan rongga mulut. ”Tembakau khusus bisa bikin iritasi mulut dan sebabkan kanker lidah. Dan ingat, lidah itu sangat kaya dengan kelenjar getah bening. Pembuluh darahnya kaya," ungkap Linda.

Karena itu, penderita tumor lidah sekalipun menjalani operasi di mana bagian lidahnya dipotong sepertiga atau seperempat agar bebas dari tumor, tetap harus dilakukan tata laksana pada bagian getah beningnya. Dikhawatirkan hal itu bisa menyebabkan terjadinya penyebaran (metastasis) ke daerah kelenjar getah bening. ”Karena apa sebanyak 30-50 persen walaupun belum ada kelenjar, bisa juga lari ke kelenjar getah bening menyebar. Karena itu mengapa penanganannya harus komprehensif,” jelasnya.

Sehingga, lanjut Linda, misalnya jika sudah dilakukan radiasi harus mendapatkan kontrol secara lokal atau bisa saja menjalani kemoterapi. Hal itu jika terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening atau ke bagian saraf. ”Betul-betul harus ditatalaksana secara benar penanganannya dan pasca atau sesudahnya,” papar Linda. (ika/jpc)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%