Pegang Man Jadda Wajada

Rabu, 06 September 2017 | 17:45
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Isnaldi Muhammad Dini, Founder PT Muntaz Sebumi Cipta Mutiara

INDOPOS.CO.ID - Tekad kuat lepas dari kemiskinan dan mengangkat harkat keluarga tak kenal didengungkan Isnaldi Muhammad Dini. Pantang menyerah dan merangkak dari nol.

----

Man jadda wajada. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya. Itulah filosopi hidup yang dipegang teguh Isnaldi. Latar belakang keluarganya sangat sederhana. Ayahnya, kuli bangunan dan ibunya, ibu rumah tangga yang sesekali dipercaya oleh warga di kota kelahirannya, Payakumbuh, Sumatera Barat, membantu persalinan.

Kegigihan lepas dari garis kemiskinan begitu kuat. Berbagai upaya dilakukan untuk membebaskan keluarganya dari rantai kemiskinan. Setelah SMA, ia merantau ke Jakarta untuk kuliah. Kebiasaannya sejak kecil sebagai pekerja berlanjut. Dalam rentang waktu 1996- 1998 menjadi office boy. Pernah jualan di Tanah Abang. Menjadi guru les privat.

Pada 1998-1999, bekerja dipercetakan. Ketika itu dipercaya mengelola percetakan. Kesempatan itu dimanfaatkan belajar mengelola karyawan dan manajemen usaha. Sekitar akhir 1999 Isnaldi memutuskan membuka percetakan. Hanya percetakan kecil dan belum memiliki mesin. Baginya yang terpenting ada tempat, dan ada beberapa karyawan. ’’Tapi kuliah saya tetap jalan, karena tujuan saya ke Jakarta adalah kuliah,’’ jelasnya.

Apapun yang berhubungan dengan kertas, sebisa mungkin dikerjakannya. Mulai kartu nama hingga kop surat. ’’Untuk mesinnya kerja sama, tidak mungkin saya investasi mesin, besar sekali. Jadi kita cukup punya kantor saja, punya komputer, punya beberapa karyawan untuk menyeting dan mendesain,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, melihat prospek usahanya yang terus tumbuh, ia berniat membesarkan usahanya. Pada 2001 mendirikan perusahan dengan nama PT. Muntaz Sebumi Cipta Mutiara. ’’Kali pertama itu saya mencari beberapa koneksi terdekat, saya saweran mengumpulkan modal, membuat percetakan yang agak lebih besar sedikit,’’ ungkapnya.

Untuk membesarkan usahanya, Isnaldi aktif di organisasi walaupun sebenarnya sejak sekolah hingga kuliah, tidak tertarik dunia organisasi. Namun setelah memiliki usaha diakui organisasi sangat penting untuk memperluas jaringan. Dari organisasi yang diikuti, Isnaldi juga mencari peluang bisnis lain. Beberapa bisnisnya yang lain adalah menyuplai batu bara dan beberapa komoditi lainnya. Perusahan ini bernama Trading and General Supplier. Selanjutnya merambah bisnis properti dan saat ini sedang berjalan beberapa bisnis lainnya. ’’Melalui organisasi bisa mengembangkan bisnis yang sudah kita bangun,’’ tegasnya. (kj)

 

Bangkit seperti Orang Jepang

Pendidikan orangtuanya yang kurang beruntung, memacu semangat Isnaldi menjadi intelektual. Harapannya mampu hidup ke arah yang lebih baik. Ia mengaku sangat mengagumi orang-orang Jepang yang pasca di bom atom bisa bangkit dengan cepat, sehingga dia juga ingin bangkit, layaknya orang-orang Jepang.

Karena sadar kondisi ekonomi keluarganya, anak keempat dari enam bersaudara itu tidak pernah menuntut banyak dari orangtuanya, termasuk uang jajan. Untuk mendapat uang jajan Isnaldi mencari sendiri. Ia rela bekerja apa saya yang penting halal. Yang pernah dilakoni adalah ketika tetangganya menggoreng kacang, ia menjualnya keliling, jualan jagung keliling, hingga mengumpulkan barang-barang bekas. Termasuk menjadi ball boy. Itu dilakukannya saat masih duduk di bangku SD. Semua dikerjakan setelah pulang sekolah.’’Jadi dunia entrepreneur saya sejak kecil sudah terbentuk,” tegasnya.

Bekerja sepulang sekolah itu ia lakukan hingga SMA. ’’Saya harus mencari solusi, kalau bisa kuliah saya tidak membebani, saya harus mampu melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari,’’ ujarnya mengakui kuliahnya kali pertama dengan beasiswa.

Ia menegaskan nekat kuliah di Jakarta karena ingin mewujudkan mimpi besar untuk sukses. Untuk mencapai kesuksesannya itu rela melakukan apa saja agar mampu bertahan di Jakarta dan dapat menyelesaikan pendidikannya. ’’Cita-cita saya waktu itu hanya ingin menjadi intelaktual,” tegasnya.

Jenjang S1, Isnaldi mengambil 3 jurusan di empat kampus; hukum Islam, akuntansi, dan hukum. ’’Pada 2004-2008 saya ambil Fakultas Hukum di UI, jadi S1 saya ada tiga,” ucapnya. “Karena memang tujuan saya, seperti yang saya katakan tadi, tujuan saya adalah untuk menuntut ilmu. Untuk menuntut ilmu itu butuh biaya. Jadi tujuan saya bekerja dan melakukan bisnis itu semata-mata tadinya mensupport tujuan saya, cita-cita saya sebagai intelektualnya tadi,” lanjutnya.

Namun dia belakangan bingung fokus apa, karena konsentrasi ada tiga. Namun ia menegaskan, semua ilmu yang dipelajari tidak ada yang sia-sia. Baginya pendidikan itu sangat penting untuk melestarikan hidupnya. ’’Nanti seperti apa? Saya tidak tahu apakah saya pakar hukum atau segala macam saya tidak tahu, tapi ternyata Tuhan membentuk saya jadi pengusaha,’’ pungkasnya. (kj)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%