God Snacks dan Bad Snacks

Selasa, 12 September 2017 | 14:47
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
dr Tirta Prawita Sari, MSc Sp GK Sekretaris Komite Nasional Gizi dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

INDOPOS.CO.ID - CAMILAN, kudapan, atau bahasa kerennya snack diterjemahkan sebagai makanan ringan. Nah, makanan selingan ini hampir selalu dikonotasikan dengan keripik, minuman bersoda, atau makanan dan minuman dalam kemasan.

Kudapan sering dijadikan kambing hitam atas banyaknya kasus kegemukan pada anak.Padahal, camilan bisa menjadi sehat dan bermanfaat bagi anak kalau benar cara menyajikannya.

Bahkan camilan jika disajikan dengan benar akan mengambil andil besar untuk asupan nutrisi harian anak-anak. Hal ini karena ukuran perut dan saluran cerna anak-anak masih kecil. Sehingga mereka kadang tak bisa mendapat nutrisi yang diperlukan hanya dengan sarapan, makan siang, dan makan malam.

Mereka memerlukan makanan dengan porsi kecil namun sering. Menurut beberapa penelitian, pada dasarnya ngemil terjadi secara alami sejak bayi dilahirkan, contohnya bayi akan menyusu saat mereka haus atau lapar. Tidak berdasar jadwal yang sudah ditentukan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Tirta Prawita Sari menerangkan, jika dalam prinsipnya camilan diberikan untuk menyeimbangkan nutrisi anak menurutnya hal yang sah. ”Maksudnya, seimbang dalam  memenuhi asupan energi selama 24 jam,” ujarnya.

Tak mesti setiap waktu memakan makanan selingan tersebut nutrisi yang diberikan ada semua seperti karbohidrat, vitamin, dan protein mesti ada. Bisa saja pada dalam sekali mengemil diberikan yang mengandung karbohidrat, di sesi lainnya berikan asupan makanan yang mengadung protein.

Ia mencontohnya, misal dalam 24 jam kebutuhan asupan makanan adalah 120 gram, bisa dalam satu sesi memberikan camilan dengan 25 gram karbohidrat. Sementara di sesi ngemil lainnya diberi asupan protein 15 gram.

”Tapi kalau memang setiap sesi bisa dipenuhi semua nutrisi bisa lebih baik,” tuturnya.

Lalu pada anak, kudapan seperti apa yang diperbolehkan dan yang tidak? Tirta menyebutkan, pada prinsipnya dalam aktivitasnya anak-anak memerlukan karbohidrat.

”Beberapa tahun belakang ada kampanye mengurangi asupan karbo pada anak. Sebenarnya, tergantung aktivitas si anak,” terangnya.

Hindari Asupan Gula Berlebihan

Yang sebenarnya perlu dihindari adalah asupan gula berlebih. Pasalnya, dari karbohidrat saja sudah ada asupan gula. Sebaiknya gula yang diasup dalam 24 jam tak lebih dari 10 persen kebutuhan energi. Bahkan dalam beberapa kasus, pemberian asupan gula berlebih pada anak bisa menyebabkan hiperaktif. Pasalnya, gula bisa memicu reseptor tertentu pada otak untuk beraktivitas.

Banyak orang tua pada generasi sebelumnya menyebut sebaiknya mengganti gula dengan madu. Tirta menerangkan, mungkin ada benarnya. Tetapi ia menganjurkan memberi madu kepada anak pada usia di atas satu tahun.

”Itu pun tak dianjurkan setiap hari,” ungkapnya.

Memang, kata dia, madu salah satu makanan sehat. Tetapi jika diberikan berlebihan pun akan tak sehat. Alasan lain menunggu anak usia 1 tahun baru bisa diberi madu karena ada kekhawatiran alergi yang ditimbulkan.

Kandungan lain yang jangan dikonsumsi berlebih oleh anak adalah garam. Nah, ini yang cukup sulit dilakukan lantaran nyaris semua masakan diberi garam. Perempuan berjilbab ini mengatakan, sebenarnya yang dihindari adalah kandungan natrium pada garam. Natrium sendiri angkanya 40 persen dari tiap penyajian.

Garam, terang Tirta, efeknya mungkin tak akan langsung terasa. Namun, seiring berjalannya waktu, jika diberi berlebihan bisa memicu hipertensi, menahan cairan, hingga gangguan ginjal pada anak.

Kurangi Penggunaan Minyak

Nah, yang terakhir adalah lemak trans. Sebenarnya kita tidak bisa memusuhi lemak. Pasalnya, dalam pertumbuhannya, anak memerlukan lemak. Hanya saja bukan lemak yang diolah secara alami dari pelepasan ikatan lemak tak jenuh. Biasanya lemak trans terjadi saat pengolahan makanan dalam industri. Misalnya margarin dari minyak yang dibuat seolah-olah seperti mentega.

Ingat! Berbedaan mentega dan margarin adalah bahan bakunya. Mentega berbahan baku susu. Sementara margarin berbahan minyak. Lemak pada mentega tak berubah dalam proses produksinya jadi cukup aman dikonsumsi anak. Dengan catatan jangan berlebihan.

Pasalnya, lemak itu seperti api. Kalau dipakai dengan cara yang benar akan bermanfaat. Kalau dipakai berlebihan bisa menimbulkan kerugian. 

Dari sekelumit penjelasan tadi, camilan yang bagaimana dianjurkan diberikan kepada anak? Tirta mengatakan, ini kembali kepada orangtua si anak yang mesti jeli. Salah satu caranya adalah melihat label kandungan nutrisi yang ada di kemasan makanan ringan yang dijual di swalayan atau toko bahan makanan. Ia menyarankan memberi camilan berupa biskuit.

”Tapi lagi-lagi lihat kandungan gulanya,” ujarnya.

Selain itu, oat meal juga diperbolehkan karena mengandung serat dan karbohidrat. Untuk asupan vitamin bisa member buah saat snack time.

Cara paling aman, menurut Tirta untuk memberikan kudapan kepada anak adalah dengan membuat kudapan sendiri. Missal membuat kroket kentang, kue lapis, atau lontong isi.

”Dengan begitu kita tahu benar nutrisi apa yang kita berikan kepada anak,” jelasnya. (fch)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%