Sambal khas Dapur Sewarna Merah Cabenya, Bengis dan Murka Rasanya

Rabu, 13 September 2017 | 14:51
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share

INDOPOS.CO.ID - SIAPA yang tak kenal dengan sambal. Sambal menjadi salah satu unsur khas hidangan kuliner di Indonesia. Tanpa sambal, makanan pun terasa hambar. Karenanya, Indonesia bisa dibalang ladangnya sambal. Bahkan setiap daerah memiliki varian berbeda. Mulai dari sambal terasi khas Jawa hingga sambal Uyah Lombok.

Nah, seiring dengan perkembangnya kuliner, dan kebutuhan makanan. Sambal pun berkembang pesat. Tak hanya rasa, namun kemasannya. Sambal pun kini menjadi salah satu hidangan kuliner yang bisa dijadikan oleh-oleh.

Tinggal order sambal dari beragam varian pun bisa dinikmati dengan capat. Sambal khas Dapur Sewarna salah satunya. ”Ada tiga jenis sambal yang kami produksi,” ujar Dimas Anugerah Perdana pemilik sambal Dapur Sewarna kepada indopos.

Sambal hasil olahan rumahan ini memiliki rasa dan level yang berbeda diantaranya sambal Murka. Dari segi tekstur, sambal Murka terlihat basah. Saat dicicipi rasanya cenderung gurih. Namun rasa pedas makin menggila saat ramuan sambal tercampur dengan lauk dan nasi di dalam mulut.

”Murka itu pedas, tapi masih bisa dinikmati oleh orang yang tak terlalu suka pedas,” ujarnya.

Rasa pedas itu dihasilan oleh campuran cabai rawit dan cabai keriting. Jadi cabai keriting yang pedasnya medium menekan pedas yang tinggi dari cabai rawit.

”Sambal murka akan cocok jika dimakan bersama nasi hangat dengan lauk,” katanya.

Selanjutnya sambil Bengis. Sambal ini memiliki tekstur kering. Sambal ini bisa dibilang nyaris serupa dengan sambal Manado. Namun untuk rasa, tentunya berbeda. Salah satunya dilevel kepedasaannya. ”Sambal ini lebih pedas ketimbang sambel murka,” terang alumi Institute Kesenian Jakarta (IKJ) Desain kominikasi visual tersebut. 

Saat sambal menyentuh sel pengecap, rasa pedas langsung menyebar di lidah. Kandungan capsaicin dari sambal yang teksturnya kering ini tampaknya lebih banyak. Bagaimana tidak? Sambal ini menggunakan murni cabai rawit. ”Proses pembuatannya pun lebih lama dan membuat sari-sari cabainya lebih nendang saat dimakan,” katanya.

Dan yang terakhir Sambel Hijau. ”Sambal ini memiliki teksturnya sambel bawang kasar yang dipadukan dengan ikan teri,” katanya.

Awet Tanpa Bahan Pengawet

Teknologi terkadang memungkinkan manusia mengawetkan makanan yang telah dimasak. Banyak dinataranya menggunakan zat-zat pengawet tertentu. Namun, untuk sambal Dapur Sewarna. Bahan pengawet menjadi barang yang haram.

”Semua nya tanpa bahan pengawet dan NoMSG,” ujar Wenny sang istri.  

Perempuan yang akrab disapa Jeng Wenny menyebutkan, proses pembuatan Sambel murka jauh dari hal yang bebau bahan pengawet. Sambal Murka, Sambal Bengis dan sambal Hijau melalui proses yang alami. ”Semuanya direbus selanjutnya digoreng sampai matang,” katanya.

Menariknya, semua sambal yang dikemas tersebut tak diblender, semuanya melalui proses manual dengan di ulek dengan cobek berbahan batu.  Rasa menjadi salah satu pertimbangannya. ”Diulek dan dikasih garam, gula dan minyak,” jelasnya.

Dengan proses tersebut, tentunya ketahanan sambal tak bisa berbulan-bilan. Dengan penyimpanan diruangan dingin. Sambal bisa dinikmati selama kurang lebih 14 hari. ”Kalau diruang terbuka paling lama empat hati,”tegasnya. (fch/ash)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%