KESEHATAN

Duh, Masih Ada Diskriminasi pada Penderita Hepatitis

Senin, 02 Oktober 2017 | 22:06
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Komunitas Peduli Hepatitis (KPH) menyesali masih adanya stigma negatif bagi penderita hepatitis dari segi sosial, terutama di bidang pekerjaan. Penderita hepatitis sering sulit mendapat pekerjaan karena adanya syarat skrining tes hepatitis dalam penerimaan pegawai.

''Hepatitis sering kali dipandang negatif dan dianggap sebagai aib, bahkan sering dikucilkan karena dianggap sebagai sumber penularan penyakit. Penderita hepatitis juga mengalami diskriminasi dalam penerimaan kerja,'' ujar perwakilan Komunitas Peduli Hepatitis Marzuarita.

Dia mengungkapkan, cukup banyak yang tidak diterima bekerja, tidak bisa naik pangkat, atau tidak diterima menjadi pegawai tetap bila hasil skrining menunjukkan hepatitis B atau C positif. ''Dalam satu tahun, rata-rata bisa ada sepuluh keluhan diskriminasi di tempat kerja,'' tandasnya.

Kedua penyakit ini masih dianggap sebagai aib atau hal yang menakutkan. ''Banyak yang keluarganya merasa takut dikucilkan, karena takut dianggap sebagai sumber penularan penyakit,'' tuturnya. 

Ita bahkan pernah menerima surat salah satu SMA di Bogor mengenai persyaratan penerimaan, yang menyatakan bahwa calon murid harus bebas dari HIV/AIDS dan hepatitis

Ketua Komisi Ahli Hepatitis dari Kementrian Kesehatan Dr. dr. Rino A. Gani, Sp.PD-KGEH menjelaskan, perlu waktu 20  30 tahun untuk jadi sirosis, di mana hati mengecil, keras dan fungsinya menurun, hingga akhirnya bisa timbul kanker hati. Sirosis muncul akibat peradangan yang terjadi terus menerus. ''Peradangan terjadi karena tubuh tidak mampu menghilangkan infeksi secara tuntas,'' terangnya.

Meski begitu, menurut Dr. dr. Rino, tidak semua infeksi hepatitis menimbulkan keluhan dan menjadi kronis. Dari sekian banyak jenis virus hepatitis, yang sering menyebabkan hepatitis kronis adalah hepatitis B dan C. itupun, hanya sekitar 30-40 persen yang berlanjut jadi kronis dan menimbulkan gangguan seperti sirosis. 

Banyak penderita hepatitis B dan C yang mampu beraktivitas seperti biasa. Penularannya pun tidak semudah itu, harus melalui kontak darah. Misalnya melalui transfusi darah, jarum suntik, tato dan lain-lain. Jadi, stigma negatif di masyarakat dan lingkungan kerja terhadap penderita hepatitis B dan C tidak beralasan.

”Memang kalau untuk di bidang medis harus ada pertimbangan karena mereka berhubungan langsung dengan pasien. Tapi kalau untuk yang non medis, apalagi yang kerja kantoran di balik meja, apa masalahnya?'' tegas Rino.

Ditambahkan Dr. dr. Kasyunil Kamal, M.S, Sp.OK dari PERDOKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Okupasi), skrining hepatitis B dengan HBsAg bukanlah parameter yang harus dilakukan saat rekruitmen.

''Sudah ada Surat Edaran dari Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan ketenagakerjaan tahun 1997 Peniadaan hepatitis B dalam pemeriksaan kesehatan tenaga kerja,'' ucapnya. 

Pemeriksaan hepatitis  diperlukan hanya untuk jenis pekerjaan tertentu seperti bidang medis atau pengolahan makanan. Bila hasilnya positif, bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan fungsi hati misalnya dengan SGOT/SGPT, untuk orang yag akan bekerja di tempat berat atau perlu berpaparan dengan bahan kimia, karena akan memperberat kerusakan hatinya. Namun, skrining maupun pemeriksaan fungsi hati tidak diperluan untuk semua jenis pekerjaan.

''Apalagi untuk pekerjaan kantoran, harusnya tidak perlu pemeriksaan HBsAg. Kenapa ada perusahaan yang masih melakukannya, entah dimulai dari mana. Saya rasa itu berlebihan, mereka sendiri tidak tahu apa fungsinya,'' imbuhnya.

Untuk diketahui bahwa HBsAg adalah protein virus. ”Artinya jika hasilnya positif, menunjukkan ada virus hepatitis B di tubuh. Namun indikator positif itu tidak menunjukkan semata-mata seseorang sakit karena protein yang diproduksi virus banyak sekali. Jadi meskipun virusnya dorman atau tidak aktif, tetap saja HbsAg-nya positif atau reaktif,” jelas Rino. 

Jika memang perusahaan ragu dengan performa calon karyawan dengan HbsAg positif, dianjurkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, misalnya enzim hatinya (GOT/SGPT) yang menunjukkan adanya peradangan hati yang aktif. (dew)

 

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%