Bisa Ular, Alternatif Pengobatan Kanker Payudara

Jumat, 27 Oktober 2017 | 07:27
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID—Kanker payudara menjadi mesin pembunuh nomor dua bagi wanita setelah kanker serviks (mulut rahim). Berbagai upaya dilakukan kaum wanita bisa terbebas dari salah satu penyakit paling mematikan ini, namun belum sepenuhnya memberi garansi.  

Prihatin atas kondisi ini, Revo Prambudi, mahasiswa jurusan Kimia Fmipa Universitas Andalas (Unand) terpanggil bisa mencarikan solusi. Melalui karya berjudul “Efek sitotoksik bisa ular Tropidolaemus wagleri terhadap sel kanker payudara manusia tipe MCF-7”, Revo berupaya mengungkap manfaat bisa ular sebagai pengobat kanker payudara.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Revo menemukan bahwa zat sitotoksik dari bisa ular dapat bekerja dan menekan intensitas sel kanker, khususnya kanker payudara. Hingga saat ini, hasil penelitian ini sudah dibuktikan lewat berbagai uji labor. Namun, tentunya tetap harus dikaji lebih mendalam lagi lewat uji lebih lanjut.

”Sejauh ini, potensi bisa ular masih belum dikembangkan, kebanyakan hanya untuk pembuatan serum anti bisa ular. Padahal, banyak kandungan yang bermanfaat dalam bisa ular,” ujar Revo kepada Padang Ekspres (INDOPOS GROUP).

Ketertarikan pria kelahiran 1995 tersebut meneliti bisa ular ini, juga tak lepas dari keinginannya mengubah pradigma masyarakat bahwa ular bukan hanya hama atau binatang berbahaya.  Namun, juga bisa menjadi obat.

Dalam penelitiannya ini, Revo khusus meneliti bisa ular pohon yang didapatkannya di hutan kawasan kampus Unand Limaumanih, Padang. Seusai bisanya diambil, Revo pun melepas kembali ular tersebut. Di samping itu, dia juga memeliharanya di rumah.

”Kebetulan di belakang Unand ada hutan yang cukup lebat, ularnya saya cari di sana. Terlebih, ular pohon ini cukup mudah ditemukan di alam bebas,” kata mahasiswa semester IX tersebut.

Perihal pengujian terhadap hasil penelitiannya ini, menurut Revo, sudah diuji-cobakan di laboratorium biomedik yang diawasi oleh dokter spesialis di bidang kanker.  Dia mengklaim penelitian menggunakan ular pohon untuk pengobatan kanker payudara ini, pertama di Indonesia. Untuk dunia, ditemukan beberapa beberapa penelitian menyangkut bisa ular ini, seperti  di Australia dan India. Cuma saja, menggunakan bisa ular kobra atau ular tanah.

”Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan, bisa ular cintomani/ cantik manis dalam dosis tertentu dapat membunuh sel kanker. Namun, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kandungan apa saja yang benar-benar spesifik untuk membunuh sel kanker,” lanjutnya.

Menurut dia, kandungannya bisa ular dapat berbahaya bagi tubuh, karena konsentrasi enzim dan protein dalam bisa dosisnya melebihi kesanggupan tubuh.  ”Makanya, saya lebih memfokuskan penelitian ini untuk mencari konsentrasi/ dosis bisa yang tepat. Sehingga, bisa ular tersebut tidak berbahaya bagi tubuh, namun dapat membunuh sel kanker,” katanya.

”Uji coba yang dilakukan saat penelitian kemarin, baru sebatas mengujicobakannya kepada sel kanker yang dibiakkan di laboratorium. Ke depannya,bakal diujikan ke hewan uji yang terkena kanker,” kata mahasiswa angkatan 2013 tersebut.

Nah untuk menjurus ke sana, dia mengharapkan dukungan semua pihak. Soalnya, sejauh ini biaya penelitian yang dia lakukan menggunakan biaya sendiri.  Padahal, butuh dana besar melanjutkan penelitian ini. Untuk uji labor di labor biomedik Unand misalnya, butuh Rp 5 juta untuk sekali uji.

”Sejauh ini, dukungan baru berasal dari dosen yang berasal dari Jurusan Kimia  saja. Selain itu, baru sebatas permintaan kerja sama dalam penggarapan penelitian lanjutan dari beberapa dosen yang tertarik,” ujarnya.

Dalam acara Student Fair 2017 bertema “Pemanfaatan bahan alam untuk peningkatan kualitas kehidupan”,  di F-MIPA Unand yang diselenggarakan pada 19-20 Oktober lalu, karya tulis soal efek bisa ular terhadap penyakit kanker ini berhasil menjadi pemenang dan berhak mendapat medali emas. Peserta Student Fair 2017 ini berasal dari berbagai universitas se-Sumatera. (cr26/JPG)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%