Ini Pengobatan Terbaru untuk Melanoma

Senin, 30 Oktober 2017 | 20:27
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ILUSTRASI: Melanoma

INDOPOS.CO.ID-Di antara beberapa jenis kanker kulit, melanoma maligna atau sering disebut melanoma saja, adalah jenis yang paling mematikan. Insiden melanoma  saat ini cukup tinggi terutama pada ras Kaukasian (kulit putih, rambut merah/terang dan mata biru). Sinar ultraviolet terutama B dan C adalah penyebab utama kanker kulit. 

Di Indonesia, melanoma memang bukan kanker kulit yang sering dijumpai. Data dari RS Kanker Dharmais, yang sudah terkonfirmasi ada 119 kasus (sejak 2005). Namun karena edukasi dan pengetahuan masyarakat yang kurang, kebanyakan kasus terdiagnosis pada stadium lanjut, saat sudah menyebar ke organ lain.

Melanoma adalah sel kanker yang menyerang sel melanosit, yaitu sel pemberi warna kulit coklat atau kehitaman. Melanoma termasuk jenis kanker paling ganas karena sangat mudah menyebar. Semakin dalam lokasi melanoma, maka dia akan lebih mudah menyebar.

Dr. dr. Aida Sofiati Dachlan Hoemardani SpKK(K) dari RS Kanker  Dharmais, melanoma dapat terjadi di bagian kulit manapun tetapi pada pria kebanyakan di badan dan pada wanita di tungkai bawah. Pada kulit berwarna, kebanyakan dimulai di telapak kaki. ''Di telapak kaki, penyebabnya lebih karena ada trauma, dan bukan karena sinar UV,'' ujar dr. Aida dalam diskusi 'Terapi terbaru Melanoma' yang diselenggarakan MSD Indonesia di Jakarta, Senin (30/10).

Melanoma pada ras Kaukasian menduduki peringkat ke-6 sebagai kanker paling sering ditemukan. ''Pada stadium 1 dan 2 masih dapat diobati. Tetapi jika sudah masuk stadium 3 dan 4, kematian sangat tinggi. Usia tersering pasien rata-rata di atas 50 tahun. Kematian lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan,'' tukasnya.

Penyebab dan faktor risiko adalah paparan sinar UV  terus menerus, riwayat keluarga (jarang di Indonesia), dan paparan sinar matahari terus menerus di masa anak-anak, atau tanning (menghitamkan kulit). Pada kulit putih risiko lebih tinggi karena jumlah sel melanositnya lebih sedikit.

Menurut Aida, melanoma dapat dikenali dari tahi lalat. Memang hanya 30 persen kanker kulit yang dikenali dari tahi lalat, sehingga tidak ada salahnya melakukan SAKURI (Periksa kulit sendiri). Caranya berdiri di cermin setinggi badan, amati kulit sepanjang badan, untuk bagian belakang dipandu dengan cermin kecil, jangan lewatkan sisi kanan dan kiri badan. Selain itu memeriksa kepala dengan bantuan Hair dryer, dan telapak kaki.

Yang dicari adalah tahi lalat dengan gejala ABCDE. A (tahi lalat yang Asimetris), B (Border, tepi tahi lalat tidak bulat atau beraturan), C (Color, warna tahi lalat tidak rata ada yang merah, coklat hitam) dan D (Diameter, tahi lalat lebih dari 6 mm). D juga bisa diartikan Difference, yaitu di antara tahi lalat di seluruh tubuh ada satu yang berbeda. Itu yang harus diwaspadai. Ada tambahan lagi kriteria E yaitu Evolving, membesar dengan cepat. Jika menemukan ada kelainan di atas, segera cek ke dokter untuk memastikan.

Dulu dengan bedah dan kemoterapi, keberhasilan terapi melanoma tidak terlalu tinggi. Saat ini sudah ada terapi baru yang menghasilkan respon terapi sangat bagus dengan imunoterapi. Contoh kasus terbaru adalah mantan Presiden Ameriksa Serikat Jimmy Carter. Jimmy yang usianya sudah lebih dari 80 tahun ini dinyatakan 'remisi' dari melanoma metastasis dengan pengobatan imunoterapi anti PD-1.

Medical Director MSD Indonesia Dr Suria Nataatmaja menjelaskan, imunoterapi anti PD-L1 dapat digunakan untuk mengobati melanoma sebagai salah satu pilihan pengobatan melanoma selain radioterapi dan kemoterapi. ''Saat ini anti PD-1  merupakan satu-satunya imunoterapi yang sudah masuk ke Indonesia. Tahun lalu, anti PD-1 mendapatkan ijin BPOM untuk terapi kanker paru, dan sejak Oktober 2017 lalu mendapatkan tambahan indikasi untuk terapi melanoma,'' jelas dr. Suria.

Penelitian Fase 1-3 pengobatan melanoma dengan PD-1 menunjukkan suatu respon positif baik pada kulit Kaukasian dan kulit Asia. Dalam penelitian, imunoterapi dibandingkan dengan kemoterapi, dan hanya 8 persen pasien yang mendapatkan kemoterapi yang survive. Pasien yang diberikan imunoterapi memiliki perbaikan atau kesempatan hidup  4 kali lebih lama, dan rata-rata memiliki usia 9 bulan lebih lama (2 kali lebih panjang dibandingkan kemoterapi).

Cara kerja imunoterapi anti PD-1 adalah mengatifkan sistem imun tubuh. Limfosit, salah satu sel imun tubuh secara alamiah akan menyerang benda asing yang mengancam kesehatan, termasuk sel kanker. Tetapi ada kondisi di mana sel kanker menghasilkan protein PD-L1 yang membuat ia tidak dikenali sel limfosit. Obat anti PD-1 akan mencegah ikatan PD-1 dengan PD-L1 pada limfosit dan sel kanker sehingga ia dapat mengenali sel tumor sebagai benda asing yang harus dihancurkan.

Di Indonesia, sesuai dengan indikasi yang disetujui, imunoterapi diberikan untuk terapi lini pertama pada pasien melanoma yang unresectable. Ada perlakuan berbeda imunoterapi untuk kanker paru dan melanoma. Jika untuk kanker paru harus dilakukan pemeriksaan jumlah eskpresi  PD-L1 terlebih dahulu, maka untuk melanoma tidak perlu karena hampir semua kanker melanoma (hampir 100 persen) mengekspresikan PD-L1. Anti PD-1 diberikan  dalam bentuk suntikan setiap 3 minggu, selama 6 bulan.

”Kami dari MSD berkomitmen  untuk memperluas akses imunoterapi anti PD-1 supaya bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh pasien melanoma di Indonesia.  Saat ini obat anti PD-1 belum masuk e-katalog BPJS. Sehingga saat ini hanya bisa digunakan pasien non-BPJS. Namun kami masih berjuang agar tahun depan ke BPJS. Dengan masuk ke BPJS lebih banyak lagi pasien melanoma yang terbantu,'' pungkasnya. (dew)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%