Deteksi Dini Turunkan Risiko Kanker Payudara

Senin, 30 Oktober 2017 | 20:34
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
ilustrasi

INDOPOS.CO.ID-Oktober diperingati sebagai bulan peduli kanker payudara. Yayasan Kanker Payudara Indonesia YKPI menyelenggarakan berbagai kegiatan terutama dalam memperluas kampanye deteksi dini kanker payudara.

Salah satu visi YKPI adalah Indonesia Bebas Kanker Payudara di Stadium Lanjut. ''Kanker payudara tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi setidaknya tidak dalam stadium lanjut sejalan tujuan SDGs yaitu meningkatkan kesehatan perempuan,'' jelas Ketua YKPI Linda Agum Gumelar dalam acara Bebaskan Indonesia dari Kanker Payudara Stadium Lanjut 2030.

Menurut Linda, deteksi dini sangat penting mengingat estimasi WHO jumlah penderita kanker payudara akan meningkat sampai 300 persen di tahun 2030. Sosialsasi dan kampanye sudah dilakukan YKPI ke seluruh Indonesia dan fokus di tahun 2017 adalah di wilayah Indonesia Bagian Timur.

Selain persoalan deteksi dini yang masih rendah di Indonesia, sistem rujukan di era BPJS yang berbelit dan panjang, juga menjadi perhatian YKPI. Sistem rujukan ini membuat  pengobatan terlambat sehingga kanker sudah terlanjur menyebar cepat. Inilah yang menyebabkan kematian kanker payudara di stadium lanjut tinggi.

''Era otonomi daerah seharusnya dapat mendorong pimpinan daerah lebih banyak menyediakan fasilitas deteksi dini dan juga menyekolahkan dokter umum atau sekolah pendidikan spesialis dan subspesialis onkologi sehingga pasien tidak perlu dirujuk ke pusat atau rumah sakit di Jawa,'' tukasnya.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (P2PTM), dr. Lily. S. Sulistyowati MM, menambahkan kanker adalah salah satu penyakit tidak menular yang saat ini menjadi persoalan serius di Indonesia. Kanker payudara dan kanker serviks adalah du ajenis kanker dengan prevalensi tertinggi. Setidaknya setiap satu jam ada satu penderita kanker payudara meninggal.

Hal ini berujung pada pembiayaan kesehatan yang sangat tinggi. Tahun 2015 setidaknya menghabiskan 2,9 triliun untuk mengobatan kanker payudara. ''Karena itu kami akan terus menggalakkan upaya preventif dengan memperluas deteksi dini,'' jelas Lily.

Dr. dr. Sonar Soni Panigoro SpBOnk(K) dari RS Kanker Dharmais menjelaskan, mengapa deteksi dini menjadi sangat penting dalam mencegah kematian akibat kanker payudara. Secara umum, tambah Sonar, intervensi pada perjalanan penyakit kanker payudara ada empat, yaitu tiga tahap pencegahan dan satu tahap pengobatan.

Pencegahan terdiri dari pencegahan primer, yaitu bagaimana mencegah seseorang sehat agar tidak menderita kanker. Ini adalah pencegahan paling ideal. Sayangnya, pencegahan ini tidak  mungkin mencegah kejadian kanker 100 persen. Efektivitasnya hanya 30 persen, sehingga perlu dilakukan pencegahan sekunder, yaitu melakukan pencegahan sekunder dengan deteksi ini.

Pencegahan sekunder tujuannya menemukan kasus kanker di tahap sangat dini sehingga  diharapkan tidak menjadi lanjut,  karena dapat segera diterapi. Pencegahan ketiga adalah pencegahan tersier yaitu mengobati penderita kanker payudara dengan benar, baik pada stadium lanjut maupun stadium dini. Pengobatan pada stadium 0 tentu saja 100 perswn, dan pada stadium 1 turun hanya 90 persen dan terus turun sampai stadium 4 di mana kanker sulit disembuhkan.

Sayangnya masih ditemukan kendala dalam akses pengobatan standar untuk kanker payudara. Misalnya, BPJS tidak mengcover seluruh siklus optimal pengobatan. Ada terapi yang seharusnya  diberikan pada stadium dini selama 16 kali, hanya dicover 8 kali dan itupun untuk stadium lanjut.

Tahap terakhir dalam perjalanan kanker payudara adalah perawatan paliatif, yaitu mengurangi nyeri pasien sehingga pasien meninggal dengan bermartabat.

Deteksi dini selain dengan Sadari, juga dapat dilakukan dengan mamografi. Mamografi dianjurkan mulai dilakukan di atas  usia 40 tahun. ''Mengapa,  karena jika dilakukan di bawah usia 40, jaringan payudara masih sangat padat sehingga sulit ditemukan kelainan. Mamografi yangdilakukan pada rentang 40-50 tahun, cukup 3 kali namun setelah usia 50 tahun diharapkan semakin sering dilakukan, apalagi setelah menopause,'' jelas Sonar.   

YKPI, menurut Linda, menyediakan Unit Mobil Mammografi (UMM) yang secara rutin mendatangi masyarakat untuk mendeteksi kanker payudara. Sampai bulan Agustus tahun 2017, jumlah peserta pemeriksaan mencapai 11.170 orang dan ditemukan jumlah pasien dengan hasil tumor jinak sebanyak 1.060 kasus (9,5 persen) dan hasil yang dicurigai ganas sebanyak 123 kasus (1,1 persen). (dew)

Editor : Wahyu Sakti Awan
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%